Ads

 

Kehancuran alam, Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.[1] Dalam ayat ini jelas sekali bahwa tanda-tanda atau kekuasaan Allah itu ditekankan bagi orang yang beriman. Tetapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Ini berarti bahwa selama ini sebagian besar kita dari generasi ke generasi belum menyadari bahwa sesungguhnya kita telah mengabaikan kesempatan pertama yang diberikan Allah untuk menjadi Kholifah atau pemimpin di dunia ini.
Al-Quran sebagai petunjuk, tidak hanya menjelaskan hal-hal yang bersifat ubudiyah dan mu’amalah saja. Akantetapi, di dalamnya juga terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan alam jagat raya dan semua yang ada di dalamnya, walaupun uraiannya tidak mendetail sampai dapat diterima oleh rasio. Dan untuk menjadikannya menjadi logis dan ilmiah, perlu adanya reset dan observasi terlebih dahulu oleh para ilmuan sebagai penghuni alam ini yang diberi kemampuan dalam bidang tersebut.
Salah satu gejala alam yang pasti akan terjadi adalah hancurnya alam semesta ini. Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menyebutkan akan terjadinya kehancuran alam. Diantaranya adalah surat Al-Qori’ah: 1 – 5, Al-Insyiqoq: 1 – 4, Al-Waqi’ah: 4 – 6, dst. Sebagai umat Islam, kita tentunya percaya dengan apa yang difirmankan Allah, yaitu hancurnya alam raya ini. Lagi pula ini adalah salah satu rukun Iman yang wajib diimani oleh semua orang yang beriman, yaitu beriman kepada hari kiamat.
Selain dengan keimanan akan terjadinya kiamat, kita juga harus mampu mendeskripsikan fenomena hancurnya alam ini secara ilmiah, agar kebenaran Al-Quran juga dapat diterima oleh kaum yang menggunakan logikanya sebagai pijakan kebenaran. Dalam hal ini, para ilmuan telah menemukan teori akan hancurnya alam. Inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.

I.                    PEMBAHASAN

Diantara ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan akan hancurnya alam raya ini, antara lain:
1.                  Surat Al-Zalzalah[99]:1
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
Artinya: Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2.                  Surat Al-Anbiya :104
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
Artinya: (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.
Kedua ayat ini sudah cukup jelas akan terjadinya fenomena kehancuran alam ini dan kiamat. Dan itulah Janji Sang Pencipta alam sendiri.
A.                  Penafsiran
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا “apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat”. Guncangan ini adalah karena datangnya hari kiamat.[2]
كطي السجل للكتب “Sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas”. Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan,”Yakni: kathayyi ashshahiifah ‘alaa maa fiihaa (laksana menggulungkan lembaran-lembaran pada semua yang ada di dalamnya). Jadi lam ini bermakna ‘alaa.
Diriwayatkan juga Ibnu Abbas, “Yakni nama juru tulis Rasulullah SAW.” Riwayat ini tidak kuat karena juru tulis Rasulullah SAW cukup dikenal, dan ini tidak termasuk mereka dan ini di antara para sahabat beliau juga tidak terdapat nama As-Sijjil.
Ibnu Abbas, Ibnu Ummar dan As-Suddi mengatkan, “As-Sijjil adalah melaikat”. Dialah yang menggulung lembaran-lembaran catatan amal manusia ketika diangkat kepada-Nya. Ada yang mengatakan bahwa di langit ke-tiga, akan di angkat amalan-amalan para hamba. Amalan-amalan itu di angkat kepada-Nya pada setiap hari kamis dan senin oleh para malaikat yang bertugas menjaga makhluk-Nya. Di antara para petugasnya, sebagaimana telah dikemukakan, adalah Harut dan Marut.
As-Sijjil juga berarti dokumen, yaitu ism yang merupakan turunan dari kata as-sajaalah, yang artinya tulisan. Asalnya dari as-sijl, yaitu ad-dalw (ember kayu). Anda mengatakan “saajaltu ar-rajul” Apabila Anda menarik ember dan ia pun menarik ember. Kemudian ungkapan ini dipinjam untuk mengungkapakan mukaatabah dan muraaja’ah (pencatatan dan pemerikasaan), sehingga di sebut musaajalah. Sajjala al haakim tasjiilan (hakim menuliskan perjanjian). Al-Fadl bin Al-Abbas bin Utbah bin Abu Lahab mengatakan, yang artinya “Siapa yang akan saling tarik menarik ember denganku, maka ia pun akan saling menarik ember dengan Majid, sehingga ia akan memenuhi ember hingga tali pengikatnya.”
Kemudian ism ini dibentuk mengkuti pola fi’il seperti halnya kata himirr, thimmir dan billiy.[3]
Dari pendapat-pendapat tersebut, yang paling benar adalah yang mengatakan As-Sijjil berarti Halaman (Shahifah), karena itulah yang paling masyhur dalam kosakata bahasa Arab. Dan dalam kenyataannya tidak ada Shahabat ataupun malaikat yang bernama Sijjil.[4]
كما بدأنا أول خلق نعيده “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”. Yakni Kami menghimpunkan mereka dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan , sebagaimana seperti pertama kali  mereka di dalam perut (kandungan).
An-Nasa’imeriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda , yang artinya “Pada hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tidak bersunat. Manusia yang dikenakan pakaian padanya adalah Ibrahim AS.”
Kemudian beliau membacakan ayat كما بدأنا أول خلق نعيده “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”.
Diriwayatkan juga Muslim dari Ibnu Abbas, ia menuturkan,”Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami memberikan wejangan, beliau bersabda yang artinya “Wahai manusia, sesungguhnya kalian kelak akan dihimpunkan kepada Allah (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralaskan kaki, telanjang dan tidak berkhitan. (Allah berfirman) : ‘Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya’ Ketahuilah bahwa manusia pertama yang dikenakan padanya pada hari kiamat adalah Ibrahim AS”.  Lalu dikemukakan kelanjutan haditsnya. Pembahasan tentang ini telah Kami paparkan di dalam At-Tadzkirah.
Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan,” Allah’ Azza wa Jalla mengirimkan dari bawah ‘Asyr seperti mani kaum laki-laki, lalu dari itu tumbuh daging dan tubuh mereka sebagaimana bumi ditumbuhi rerumputan.” Lalu ia membacakan ayat  نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”.
Ibnu Abbas mengatakan,”Maknanya: Kami menghancurkan segala sesuatu dan melenyapkan sebagaimana pertama kali”. Berdasarkan makna ini, maka redaksi ini bersambung dengan redaksi: يوم نطوى السماء“(Yaitu) pada hari ketika Kami akan menggulung langit”, yakni, Kami menggulungnya lalu mengembalikannya kepada kehancuran dan kefanaan sehingga tidak menjadi sesuatu pun.”
Ada juga yang mengatakan,”Kami lenyapkan langit kemudian Kami mengulanginya lagi setelah digulung dan dihilangkan.[5]
B.                  KEHANCURAN ALAM
Menurut ayat 104 Surat Al-Anbiya tersebut, proses kiamat akan dimulai ketika alam raya yang mengembang ini terhenti dari pengembangannya, lalu kembali mengerut, sebagaimana dinyatakan dengan kata-kata “(yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas”. Isyarat ini jelas sekali menyatakan bahwa alam raya ini bukan sistem terbuka yang brarti akan mengembang terus, melainkan sistem tertutup yang akan mengerut kembali ke awal penciptaannya. Pernyataan itu dipertegas lagi dengan surat Al-Rum ayat 11:
“Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan ”[6]
Salah satu teori terjadinya alam semesta yang banyak disepakati kebenarannya oleh para ilmuwan adalah teori Dentuman Besar (The Big Bang). Dasar dari teori ini adalah alam semesta terbentuk dari titik yang mengembang lewat sebuah ledakan.
Lalu, bagaimana kiamat bisa dimungkinkan terjadi? Karena terus mengembang, maka dari sudut pandang sains ada 3 kemungkinan bagaimana alam semesta mengalami kiamat, yaitu “Big Crunch”, “Big Chill” dan “Big Rip”.

Big Crunch menyatakan alam semesta akan terus berkembang hingga titik maksimal, kemudian setelah mencapai titik maksimal maka alam semesta akan mengalami kompresi atau mengecil dan akhirnya kembali menjadi titik.
Big Chill menyatakan alam semesta akan terus berkembang sampai akhirnya kehabisan bintang - bintang bahan bakar. Sehingga berakibat, tanpa bintang, planet-planet akan beku dan mati. Teori ini masih cukup diragukan.
Sementara menurut teori Big Rip, ekspansi alam semesta akan terus bertambah, galaksi mengembang, gravitasi melemah dan isinya akan tercerai berai. Bintang, planet dan akhirnya seluruh atom - atom pun akan pecah. Waktu dan dimensi akan berhenti. Teori ini yang cukup diyakini kebenarannya akan terjadi, karena merujuk pada teori Dentuman Besar sebagai teori terjadinya alam semesta, alam semesta terjadi karena sebuah ledakan dan akan berakhir oleh sebuah ledakan pula.[7]
II.         KESIMPULAN

                            Dari contoh teori diatas tentang hancurnya alam semesta, kita bisa menangkap bahwa Allah telah merencanakan sesuatu sebelum manusia mempelajarinya. Allah telah menjelaskan bagaimana alam terbentuk dan bagaimana hancurnya alam tersebut secara global di dalam Al-Quran. Kemudian setelah berabad-abad dari penurunan Al-Quran, manusia baru menemukan teori tentang proses terbentuknya alam dan kehancurannya.
                            Al-Quran adalah kitab Allah yang paling lengkap dan berisi berbagai macam ilmu pengetahuan. Dan kita tidak dapat memungkirinya. Allah telah merencanakan apapun termasuk hari kiamat yang kita tidak tahu pastinya kapan tapi teori big crunch sudah sesuai dengan firman Allah tentang hari kiamat.



DAFTAR PUSTAKA
·        Al-Thabari Abu Ja’far, Jami’ul bayan fi Ta’wil Al-Quran. 2000
·         Ibnu Katsir Abu Al-Fida, Tafsir Al-Quran Al-Adhim. (Maktabah Syamilah: 1999)
·           S. Anwar Effendie, dkk. Alam Raya dan Al-Quran. (Jakarta: 1994).  Cet.1. PT. Anem Kosong Anem.




[1] Al Jaatsiyah: 3
[2] Al-Thabari Abu Ja’far, Jami’ul bayan. 2000. Juz 134. Hlm. 547
[3] Ibnu Katsir Abu Al-Fida, Tafsir Al-Quran Al-Adhim. (Maktabah Syamilah: 1999). Juz: 5. Hlm.: 382.
[4] Al-Thabari Abu Ja’far, Jami’ul bayan. 2000. Juz 18. Hlm. 544.
[5] Ibnu Katsir Abu Al-Fida, Tafsir Al-Quran Al-Adhim. (Maktabah Syamilah: 1999). Juz: 5. Hlm.: 384.
[6] S. Anwar Effendie, dkk. Alam Raya dan Al-Quran. (Jakarta: 1994).  Cet.1. PT. Anem Kosong Anem. Hal. 464

Post a Comment Blogger

 
Top