Ads

 

Metodologi Pemahaman Hadis Menurut Qardhawi
Imam Yusuf al-Qaradawi  merupakan ulama kontemporer saat ini. Hasil karya dan pemikirannya banyak menjadi sunber referensi kajian-kajian (studi) keislaman salah satu konsentrasi dan focus kajian yang di tekunin Imam Qardhawi  adalah ilmu-ilmu hadis tidak hanya dalam pemahaman teks-teks hadis secara langsung akan tetapi juga melalui teori-teori yang ia kembangkan.
Dan kali ini penulis akan mencoba memaparkan tentang beberapa metode yang ditawarkan untuk memahami hadis nabi Muhammad SAW. Lebih lanjud Imam Qardhawi merumuskan beberapa metode dalam memahami sebuah Hadis, di antaranya adalah :

1.     Memahami as-Sunnah sesuai dengan petunjuk al-Qur’an 

Gagasan mengenai pentingnya memahami hadis berdasarkan petunjuk al-Qur’an ini bukan orisinal sebagai gagasan  Qardhawi saja. Pemikiran-pemikiran lain pada umumnya memiliki gagasan yang sama.
Muhammad al-Ghazali dalam bukunya as-Sunnah an-Nabawiyah Bayna Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis menyediakan hampir keseluruhan babnya untuk menegaskan betapa pentingnya pemahaman terhadap hadis Nabi Saw. untuk mempertimbangkan petunjuk-petunjuk al-Qur’an[1].
Hal ini berdasarkan pada argumentasi bahwa al-Qur’an adalah sumber utama yang menempati hierarkhi tertinggi dalam keseluruhan sistem doktrinal Islam. Sedangkan hadis adalah penjelas atas prinsipprinsip al-Qur’an, dalam arti lain penjelas tidak boleh bertentangan dengan yang dijelaskan. Oleh karena itu makna hadis dan signifikansi kontekstualnya tidak boleh atau tidak bisa bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an[2].

2.     Memadukan beberapa hadis yang mengemukakan satu topik

Qardhawi menjelaskan bahwa agar bisa berhasil untuk memahami sunnah secara benar, kita harus menghimpun dan memadukan beberapa hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu (satu topik). Kemudian mengembalikan kandungan hadis yang mutasyabihat  (belum jelas artinya) disesuaikan dengan hadis yang muhkam (jelas maknanya), mengaitkan yang mutlak (terurai) dengan yang muqayyad (terbatas), dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash
Melalui cara ini, suatu hadis dapatlah dipahami dan dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan hadis yang lainnya[3].
Sebagaimana yang sudah ditetapkan, bahwa sunnah menafsirkan alQur’an dan menjelaskan makna-maknanya. Dalam arti bahwa sunnah merinci apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an secara garis besarnya, menafsirkan bagian-bagiannya yang kurang jelas. Mengkhususkan yang umum, dan membatasi apa yang disebutnya secara lepas (muthlaq).
Pendapat tersebut harus diterapkan pula antara hadis yang satu dengan hadis yang lainnya. Apabila hanya terfokus pada satu topik hadis tertentu seringkali menjerumuskan ke dalam kesalahan, dan menjauhkannya dari kebenaran mengenai maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut[4]

3.     Penggabungan atau pentarjihan antara hadis-hadis yang (tampaknya) bertentangan

Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa tidak ada kontradiksi dalam nash-nash syariat, sebab kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran. Walaupun ada itu terbatas padalahirnya saja bukan padahakikat dan realitas. Dan apabila terdapat hadis yang seperti itu, kita wajib menghilangkannya dengan cara sebagai berikut:
a.     Penggabungan didahulukan sebelum pentarjihan
Untuk memahami as-Sunnah secara baik, yaitu dengan cara menyesuaikan antara berbagai hadis sahih yang redaksinya tampak saling bertentangan, begitu  juga dengan makna yang kandungannya, yang sepintas lalu tampak berbeda. Kemudian semua hadis dikumpulkan dan masing-masng dinilai secara proporsional, sehingga dapat dipersatukan dan tidak saling berjauhan, saling menyempurnakan dan tidak saling bertentangan. Pada pembahasan ini hanya menekankan pada hadis-hadis yang sahihsaja, sedangkan hadis yang dhaif tidak termasuk karena kualitasnya lemah[5].
b.     Soal Naskh dalam hadis 
Pada hakekatnya naskh dalam hadis, tidak sebesar naskh dalam al-Qur’an. Hal itu mengingat bahwa al-Qur’an pada dasarnya adalah pegangan hidup yang bersifat universal dan abadi. Sedangkan sunnah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Saw. Jika ada dua hadis dan dapat diamalkan keduaduanya maka diamalkanlah, dan tidak boleh salah satu dari keduanya mencegah diamalkannya yang lain.
Akan tetapi apabila tidak ada kemungkinan keduanya dapat dihindarkan dari pertentangan, maka ada dua jalan untuk ditempuh yaitu: 1) jika diketahui salah satu dari keduanya merupakan nasikh dan lainnya mansukh,maka yang diamalkan nasikh-nya saja. 2) Apabila keduanya saling bertentangan dan tidak ada petunjuk mana yang nasikh dan mansukh,maka tidak boleh berpegang pada salah satunya, kecuali berdasarkan suatu alasan yang menunjukkan bahwa hadis yang dijadikan pegangan lebih kuat dari yang satunya[6].

4.     Memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakangnya, situasi dan kondisinya ketika diucapkan, serta tujuannya

Salah satu cara untuk memahami sunnah nabawy yang baik adalah dengan pendekatan sosio-historis, yaitu dengan mengetahui latar belakang diucapkannya atau kaitannya dengan sebab atau alasan (‘illah) tertentu yang dikemukan dalam riwayat atau dari pengkajian terhadap suatu hadis. Selain itu, untuk memahami hadis harus diketahui kondisi yang meliputinya serta di mana dan untuk tujuan apa diucapkan. Dengan demikian, maksud hadis benar-benar menjadi jelas dan terhindar dari berbagai perkiraan yang menyimpang[7].
Pendekatan ini berusaha mengetahui situasi Nabi Muhammad Saw dan menelusuri segala peristiwa yang melingkupinya. Pendekatan ini telah dilakukan oleh para ulama, yang mereka sebut dengan asbabul wurud. Dengan pendekatan ini maka akan diketahui mana hadis yang mempunyai sebab-sebab khusus dan mana yang umum, mana yang bersifat temporal, kekal, parsial atau yang total. Masing-masing mempunyai hukum atau pengertian sendiri, dengan demikian maka tujuan atau kondisi yang ada dan sebab-sebab tertentu dapat membantu memahami hadis dengan baik dan benar[8].

5.     Memisahkan antara sarana yang berubah-ubah dan tujuan yang bersifat tetap dalam setiap hadis

Sebagian orang banyak yang keliru dalam memahami sunnah nabawy dengan mencampuradukkan antara tujuan atau alasan yanag hendak dicapai, sunnah dengan prasarana temporer ataulokal dan kontekstual yang kadangkala menunjang pencapaian sasaran yang dituju. Mereka memusatkan diri pada berbagai prasarana ini, seakan-akan sarana itulah satu-satunya tujuan. Padahal, siapapun yang benar-benar berusaha untuk memahami sunnah Nabi Saw serta rahasia-rahasia yang dikandungnya akan mendapat kejelasan bahwa yang paling pokok adalah tujuannya. Sedangkan yang berupa prasarana adakalanya berubah seiring perubahan lingkungan, zaman, adat kebiasaan, dan sebagainya[9].
Setiap sarana dan prasarana, dapat saja berubah dari suatu masa ke masa lainnya, dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya, bahkan itu semua mengalami suatu perubahan. Al-Qur’an juga menjelaskan dan menegaskan tentang sarana atau prasarana yang cocok untuk suatu tempat atau masa tertentu. Hal tersebut bukan berarti bahwa kita harus berhenti padanya saja, dan tidak memikirkan tentang prasarana lainnya yang selalu berubah dengan berubahnya waktu dan tempat[10].

6.     Membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan yang bersifat majaz dalam memahami hadis

Menurut Qardhawi ada hadis Nabi yang sangat jelas maknanya dan sangat singkat bahasanya, sehingga si pembaca hadis tidak memerlukan penafsiran atau ta’wilan untuk memahami makna dan tujuan Nabi. Selain itu, ada juga redaksi Nabi yang menggunakan kata  majazi, sehingga tidak mudah dipahami dan tidak semua orang dapat mengetahui secara pasti tujuan Nabi. Hadis dalam kategori kedua biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan yang sarat dengan simbolisasi. Ungkapan-ungkapan semacam itu sering dipergunakan Nabi karena bangsa Arab pada masa itu sudah terbiasa dengan menggunakan kiasan atau metafora dan mempunyai rasa bahasa yang tinggi terhadap bahasa Arab[11].
Majaz di sini meliputi: Lughawy, ‘Aqly, isti’arah, kinayah, dan berbagai macam unhgkapan lainnya yang tidak merujukkan makna sebenarnya secaa langsung, tetapi hanya dapat dipahami dengan pelbagai indikasi yan menyertainya, baik yang besifat tekstual maupun
kontekstual43.

7.     Membedakan antara yang gaib dan yang nyata

Di antara kandungan-kandungan hadis Nabi adalah hal-hal yang berkenaan dengan alam gaib yang sebagiannya menyangkut makhlukmakhluk yang tidak dapat dilihat di alammaya. Seperti, Malaikat yang diciptakan Allah dengan tugas-tugas tartentu, begitu juga Jin dan Setan yang diciptakan untuk menyesatkan manusia. Kecuali mereka hambahamba Allah yang berbeda jalannya[12].
Sebagian besar hadis-hadis yang menerangkan tentang alam gaib bernilai shahih, namun yang diriwayatkan shahih pun tidak sedikit, oleh karena itu, hadis-hadis yang bernilai shahih haus dipahami secara proposional, yakni antara yang membicarakan alam kasap mata dengan yang membahas tentang alam gaib.

8.     Memastikan makna peristilahan yang digunakan oleh hadis  

Suatu hal yang amat penting dalam memahami as-Sunnah dengan benar yaitu memastikan makna dan konotasi kata-kata tertentu yang digunaakan dalam susunan kalimat As-Sunnah. Adakalanya konotasi katakata tertentu berubah karena perubahan dan perbedaan lingkungan. Masalah ini tentunya akan lebih jelas diketahui oleh mereka yang mempelajari perkembangan bahasa serta pengaruh waktu dan tempat hidupnya. Adakalanya suatu kelompok manusia menggunakan kata-kata tertentu untuk menunjukkan makna tertentu pula[13] 
Sementara itu, tidak ada batasan untuk menggunakan istilah atau kata-kata tertentu. Akan tetapi yang dikhawatirkan disini adalah menafsiri lafadz-lafadz yang tertentu dalam sunnah (termasuk pula dalam AlQur’an), dengan menggunakan istilah modern. Dari sinilah seringkali nampak adanya penyimpangan dan kekeliruan. Oleh karena itu, penguasaan arti dan makna pada dasanya akan membantu memahami apa Sesungguhnya yang dimaksud oleh hadis secara proporsional[14].





[1] Muhammad al-Ghazali, Studi Kritis atas Hadis Nabi Saw. Atara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual, Terj. Muhammad al-Baqir, (Bandung: Mizan, h.11, th. 1996) 
[2] Bustamin; M. Isa H.A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada), h.90, th.2004 
[3] Yusuf al-Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw., h.106. Lihat juga Yusuf alQardhawi, Bagaimana Bersikap Terhadap Sunnah (Solo; Pustaka Mantiq, 1995), h.141   
[4] Ibid, h.106. Lihat juga Bustamin; M. Isa H.A. Salam, Metodologi..,h.92 
[5] Yusuf al-Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi Saw, h. 117-130 
[6] Ibid, h.131 
[7] Bustamin; M. Isa H.A. Salam, Metodologi…, h. 97
[8] Yusuf Qardhawi, Bagaimana MemahamiHadis Nabi saw., h. 132 
[9] Ibid, h.148. Lihat juga Yusuf Qardhawi, bagaimana Bersikap terhadap Sunnah, h.186
[10] Ibid 
[11] Bustamin; M. Isa H.A Salam, Metodologi…, h.98  43 Yusuf al-Qaradhawi, Bagaimana Memahami…, h.167. 
[12] Ibid, h. 189 
[13] Ibid., h.195
[14] Yusuf Qardhawi, Bagaimana Bersikap..., h.236  

Post a Comment Blogger

 
Top