Ads

 

Nasikh dan Mansukh

PENDAHULUAN

Ajaran agama-agama langit (al-syariah al-samawiyah) diturunkan oleh Allah SWT kepada para utusanNya bertujuan untuk memberikan Kemashlahatan bagi umat manusia dalam bidang akidah, ibadah, dan muamalah. Oleh karena akidah dari semua ajaran yang diturunkan Allah SWT  kepada para rasulNya hanya satu, yakni penuhanan dan penyembahan kepada Tuhan yang satu, maka dalam bidang akidah ini konsep tersebut selamanya tidak berubah sejak rasul pertama hingga rasul yang terakhir. Allah menegaskan dalam masalah ini dengan firmanNya:
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْ لٍ اِلَّا نُوْ حِيْ اِلَيْهِ اَنَّهُ لاَاِلهَ اِلَّا اَنَا فَا عْبُدُوْنَ                                  
“ Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, kecuali kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka menyembahlah kamu semua kepadaKu.” (QS.Al-Anbiya’:25)
Sedangkan dalam bidang ibadah dan muamalah, semua syariat memiliki prinsip dasar yang sama, yakni memelihara jiwa dan menjaga keselamatan seluruh umat manusia dan mengikatnya dalam suatu ikatan hubungan saling tolong-menolong dan persaudaraan. Meskipun demikian, tuntutan kebutuhan setiap umat berbeda antara umat yang satu dengan umat yang lainnya. Hal-hal yang cocok untuk satu umat dalam suatu masa belum tentu cocok untuk umat yang lain pada masa yang lain pula. Di samping itu perjalanan dakwah pada masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan sebuah umat tidak sama dengan dakwah pada masa perkembangan dan kelanjutannya. Maka, hikmah legislasi (hikmah al-tasyri’) pada satu periode juga akan berbeda dengan periode lainnya. Oleh karena itu, Allah yang memegang penuh atas otoritas syari’at, lebih mengetahui atas syariat yang diturunkannya. Tidak mengherankan rasanya jikalau Allah menghapus pemberlakuan syariat dan menggantinya dengan syariat yang lain. Hal ini tidak lain karena bertujuan untuk menjaga kemashlahatan hamba-hambaNya berdasarkan sifat al-‘ilm-Nya yang meliputi segala hal.
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nasikh

Ada beberapa makna yang dikehendaki oleh kata naskh, antara lain:
Pertama, bermakna izalah atau menghilangkan (QS. Al-Ahzab:52)
Kedua, bermakna tabdil atau mengganti (QS. An-Nahl:101)
Ketiga, bermakna tahwil atau memalingkan seperti memalingkan pusaka dari seseorang kepada orang lain. (Al-Burhan 2:29)
Keempat, bermakna menukilkan dari satu tempat ke tempat lain, (QS.Al-Jasiyah:29), atau seperti kalimat :
نَسَخْتُ الْكِتَا بَ                                                                                                        
Menurut istilah naskh ialah mengangkat (menghapuskan) hukum syara’ dengan dalil hukum (khitab) syara’ yang lain. Alat (dalil) yang menaskh dinamakan dengan nasikh. Sedangkan mansukh adalah hukum yang diangkat atau dihapuskan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam naskh diperlukan syarat-syarat berikut:
1. Hukum yang di-naskh  (mansukh) adalah hukum syara’
2. Hukum yang menaskh (membatalkan) datangnya lebih akhir dari yang di-naskh.
3.  Khitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan naskh.
Makki (Abu Muhammad) berkata: segolongan ulama menegaskan bahwa khitab yang mengisyaratkan waktu dan batas tertentu, seperti firman Allah “maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintahNya”(QS.Al-Baqarah:109), adalah muhkam, tidak mansukh, sebab ia dikaitkan dengan batas waktu. Sedang apa yang dikaitkan dengan batas waktu, tidak ada naskh di dalamnya.

B. Pembagian Naskh dan Macam-Macam Naskh dalam Al-Qr’an

Seperti yang telah disampaikan di atas, naskh berlaku pada dalil-dalil syariat yang berupa nash. Dengan kata lain, naskh hanya ada dalam Al-Qur’an dan hadits.
1. Naskh Al-Qur’an dengan Al-Qur’an
Bagian ini disepakati kebolehannya dan telah terjadi dalam pandangan mereka yang mengatakan adanya naskh.
2. Naskh Al-Qur’an dengan sunnah
Dalam permasalahan boleh tidaknya Al-Qur’an di-naskh oleh sunnah perlu adanya pemilahan antara sunah mutawatir  dan sunah ahad.
a. Naskh Al- Qur’an dengan hadits ahad
Jumhur berpendapat al- qur’an tidak boleh di naskh oleh hadits ahad, sebab al- qur’an adalah mutawatir dan menunjukkan yakin, sedang hadits ahad adalah dzonn bersifat dugaan. Disamping tidak sah pula menghapuskan sesuatu yang ma’lum (jelas diketahui) dengan yang madznun(di duga)
b. Naskh al- qur’an dengan hadits mutawatir
Naskh demikian dibolehkan oleh Malik, Abu hanifah dan ahmad. Sedangkan as- Syafi’i dalam riwayatnya yang lain menolak naskh seperti ini, berdasarkan firman Allah dalam surat al- baqarah: 106. Sedang hadits tidak lebih baik dari atau sebanding dengan al- Qur’an
3. Naskh sunnah dengan Al-Qur’an
Naskh yang demikian di perbolehkan oleh jumhur. Sebagai contoh ialah masalah menghadap ke kiblat baitul maqdis yang mana telah di tetapkan oleh sunnah dan didalam al- Qur’an tidak terdapat dalil yang menunjukkannya. Ketetapan itu dinasakhkan oleh Qur’an dengan firman-Nya(al- baqarah: 144).
4. Naskh sunnah dengan sunnah
Dalam kategori ini terdapat empat bentuk: pertama, naskh mutawatir dengan mutawatir, kedua, naskh ahad dengan ahad, ketiga, naskh ahad dengan mutawatir, keempat, naskh mutawatir dengan ahad. Pada bentuk pertama dibolehkan, sedang pada bentuk keempat terjadi silang seperti halnya naskh Qur’an dengan hadits ahad, yang tidak dibolehkan oleh jumhur.
Demikian tadi adalah pembagian naskh secara umum, sedangkan macam- macam naskh dalam Qur’an terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Naskh tilawah dan hukum.
Naskh semacam ini dan dua naskh yang lainnya diperbolehkan menurut kesepakatan ‘ulama (ittifaq). Hanya sekelompok golongan mu’tazilah saja yang tidak mau menerima naskh ini. Contoh dari naskh ini ialah ayat yang di riwayatkan oleh muslim dan yang lain, dari Aisyah, ia berkata:
كَا نَ فِيمَا أُ نْزِلَ عَشَرُ رَضَعَا تٍ مَعْلُو مَا تٍ يُحَرِّمْنَ فَنُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَا تٍ. فَتُوَفّيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : (وَهُنَّ مِمّاَ يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ)
“ di antara yang diturunkan kepada beliau adalah ‘sepuluh susuan yang maklum itu menyebabkan muhrim ’’ ,
kemudian (ketentuan) ini dinaskh dengan
‘‘ lima susuan yang maklum ’’ . maka ketika Rasululloh wafat ‘ lima susuan’ ini termasuk ayat Qur’an yang dibaca.
2. Naskh hukum sedang tilawahnya tetap
Contoh naskh dari ayat ini ialah surat Al mujadilah (58: 12)
يَاَ يُّهَا الَّذِ يْنَ ءَامَنُوا اِذَا نجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَ يْ نَجْوَ ىكُمْ صَدَ قَةً            
 “ Hai orang- orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaran khusus dengan rosul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. ” yang dinaskh hukumnya dengan surat Al mujadilah (58: 13)
                                                 ءَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَىْ نَجْوَ‘ىكُمْ صَدَقتٍ
“apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaaan dengan rasul? ”
3. Naskh tilawah sedang hukumnya tetap
Naskh ini bisa dilihat dari riwayat shohabat ‘Umar bin al- khattab dan Ubay bin ka’ab, yang mengatakan bahwa dalam wahyu yang diturunkan ada sebuah ayat yang berbunyi:

اَلشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ اِذَا زَنَيَا فَا رْجُمُوْ هُمَا الْبَتَّةَ نَكَا لاً مِنَ اللهِ                                          
“ lelaki yang tua dan perempuan yang tua ketika keduanya melakukan zina maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah SWT. ”
Ayat tersebut dinaskh bacaannya sedangkan hukumnya masih tetap ada dengan ayat:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَا جْلِدُ وا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِا ئَةَ جَلْدَ ةٍ                                              
“ perempuan yang berzina dan laki- laki yang berzina, maka deralah tiap- tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. ”(QS. Al- Nur 24: 2)

C. Pendapat Ulama mengenai naskh

Dalam maslah naskh, para ulama terbagi atas empat golongan:
1. Pendapat yang menentang adanya naskh
Pendapat yang menentang adanya naskh dalam ayat-ayat Allah datang dari kalangan Yahudi. Mereka berpendapat, jika Allah mengganti hukumnya, hal itu menunjukkan bahwa Allah tidak mengetahui apa-apa yang  akan terjadi. Ibnu Katsir mambantah logika mereka, beliau mengatakan , “ Tidak ada kemustahilan adanya naskh atau pembatalan dalam hukum-hukum Allah, karena Dia menetapkan hukum sesuai kehendakNya dan melakukan apa saja yang diinginkanNya” . Allah bisa saja memerintahkan suatu hal pada satu waktu kemudian melarangnya pada waktu lain, seperti memerintahkan puasa pada bulan Ramadhan dan melarangnya pada hari Raya.
Padahal, sebenarnya mereka juga mengetahui bahwa sebagian syariat Nabi Musa datang menghapuskan syariat nabi-nabi sebelumnya. Dalm kitab taurat pun telah ada hukum yang di-naskh. Sebagi contoh, telah diharamkan bagi mereka beberapa jenis hewan yang sebelumnya merupakan makanan yang halal bagi mereka.(QS. Al-Imran:93)
Begitupun di taurat, telah disebutkan bahwa Nabi Adam telah menikahkan anak laki-lakinya dengan anak perempuannya. Hal ini telah diharamkan dalam syariat Nabi Musa.
Jika pun Allah dalam mensyariatkan hukum memperhatikan dan menjaga kemashlahatan hamba-hambanya, maka tidak diragukan lagi bahwa kemashlahatan akan berbeda-beda dengan berbedanya individu dan waktu. Dari sini, naskh hukum yang telah ditetapkan  oleh Allah merupakan kebijaksanaanNya karena memandang mashlahat bagi hamba-hambanya.
2. Pendapat yang berlebihan
Pendapat ini datang dari kelompok Rawafidh (pecahan dari kelompok syiah), yang berlebihan dalam mengaplikasikan naskh. Mereka mengambil dalil dari perkataan yang disandarkan pada sahabat Ali ra. Bahwa maksud ayat,” Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.”(QS. Ar-Ra’d:39) Allah telah menampakkan kepada mereka untuk bisa menghapus dan menetapkan suatu hukum sehingga mereka bebas untuk menghapus suatu hukum atau menetapkan suatu hukum. Padahal, pendapat tersebut sebenarnya hanyalah tuduhan dan kebohongan mereka.
3. Pendapat Abu Muslim al-Ashfahani
Menurutnya, terjadinya naskh itu dibenarkan oleh akal, namun tidak oleh syariat. Menurut beliau, hukum- hukum Al-Qur’an itu tidak akan batil selamanya. dengan dalil,”yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”(QS. Fushilat:42)
Padahl maksud tersebut adalah Al-Qur’an tidak didahului dengan apa-apa yang bisa membuatnya batil dari kitab-kitab dan juga tidak ada yang bisa membuatnya batil sesudahnya.
4. Pendapat  Jumhur Ulama
Mereka berpendapat, naskh adalah suatu hal yang dapat diterima akal dan telah pula terjadi dalam hukum-hukum syara’, berdasarkan dalil-dalil:
a. Perbuatan-perbuatan Allah tidak tergantung pada alasan dan tujuan. Dia boleh saja memerintahkan sesuatu pada suatu waktu dan melarangnya pada waktu yang lain. Karena hanya Dialah yang lebih mengetahui kepentingan hamba-hambaNya.
b. Nash-nash dalam Al-Qur’an dan hadits menunjukkan kebolehan naskh dan terjadinya, antara lain ayat:
واذا بد لنا اية مكا ن اية                                                                                
“dan apabila Kami mengganti suatu ayat di tempat ayat yang lain” (QS. An-Nahl)
ما ننسخ من اية اوننسها نأ ت بخير منها او مثلها  الم تعلم ان الله على كل شئ قد ير  
“ayat mana saja yang Kami batalkan, atu Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah:106)

D. Cara mengetahui naskh

Naskh mengharuskan adanya dua buah dalil yang bertentangan, yang tidak ada jalan keluar untuk menyatukannya. Sehingga salah satu dalil tersebut menaskh dalil yang lain. Penaskhan harus memiliki dalil yang shahih , yang menunjukkan bahwa salah satu dalil tersebut datang lebih akhir dari dalil yang lainnya, sehingga dalil yang lebih dahulu itu dinaskh.
Untuk mengetahui naskh ada beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya:
1. Penjelasan dari nash al- Qur’an dengan ayat yang menunjukkan dengan adanya penaskhan, seperti QS. Al- Mujadilah 58: 13. Ayat diatas menaskh perintah bersedekah sebelum berbicara kepada Nabi. Yang terdapat pada ayat sebelumnya.
2. Penjelasan Nabi mengenai penaskhan, seperti ucapan Nabi Saw: “ ayat ini menaskh ayat yang itu. ” atau semacamnya, seperti hadits yang artinya: “Saya telah melarang kalian untuk berziarah kubur. Ingatlah! Berziarah kuburlah kalian semua. ” hadits ini menunjukkan bahwa larangan ziarah kubur ada terlebih dahulu daripada perintah ziarah kubur.
3. Perbuatan Nabi seperti perajaman yang dilakukannya kepada sahabat Ma’iz dan tidak menderanya. Apa yang dilakukan Nabi ini menaskh pernyataan dari Nabi sendiri, yang mengatakan:
“ apabila seorang lelaki yang telah bersuami (menikah) berzina dengan wanita yang telah menikah, maka didera seratus kali dan di rajam dengan batu. ”
4. Kesepakatan para sahabat bahwa ayat atau dalil ini adalah naasikh dan dalil itu mansuukh, seperti penskhan puasa tanggal 10 muharrom dengan puasa rhomadhon dan penaskhan hak- hak yang berkaitan dengan harta benda dengan kewajiban zakat.
5. Penukilan yang dilakukan seorang perowi dari sahabat bahwa salah satu dari dua hukum tentang sebuah permasalahan lebih didahulukan daripada hukum yang lain, karena tidak mempunyai peluang untuk melakukan ijtihad dalam masalah tersebut. Seperti perkataan seorang sahabat: “ ayat ini diturunkan setelah ayat itu. ”
6. Keberadaan dari salah satu hukum dari dua hukum merupakan hukum syari’at, sedangkan hukum yang lainnya lebih mirip atau cocok dengan adat pada zaman dulu. Maka hukum syari’at menaskh adat tersebut.

E. Hikmah naskh

Di antara hikmah naskh ialah:
1. Memelihara kemashlahatan hamba-hambaNya
2. Perubahan syari’at yang selalu menuju kesempurnaan sesuai dengan perkembangan dakwah dan juga perkembangan kehidupan manusia.
3. Sebagai ujian bagi manusia apakah ia akan tunduk pada aturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT, ataukah ia akan melanggar-Nya.
4. Merupakan kehendak Allah SWT untuk memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya, sekaligus memberikan kemudahan dalam menjalankannya. Jika hukum naskh memberatkan umatNya, Dia akan memberikan pahala yang lebih besar dan kalaulah dengan hukum ini lebih meringankan, hal itu merupakan keringanan bagi hamba-hambaNya.

I. Kesimpulan

1. Ma’na naskh antara lain izalah (menghilangkan) , tabdil (mengganti) , tahwil (memalingkan) , dan menukilkan satu tempat ke tempat lain. Sedangkan secara istilah yaitu mengangkat (menghapuskan) hukum syara’ dengan dalil hukum (khitab) syara’ yang lain. Dalil yang menaskh dinamakan naasikh, dangkan hukum yang dihapuskan dinamakan mansuukh. Syarat- syarat yang diperlukan dalam naskh yaitu
a. Hukum yang di-naskh  (mansukh) adalah hukum syara’
b. Hukum yang menaskh (membatalkan) datangnya lebih akhir dari yang di-naskh.
c.  Khitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan naskh.
2. Pendapat ulama’ mengenai naskh terbag menjadi empat golongan, yaitu:
Pendapat yang menentang adanya naskh, Pendapat yang berlebihan, Pendapat abu muslim al ashfahani, dan Pendapat jumhurul ulama’.
3. Pembagian naskh dan macam- macam naskh
Naskh terbagi menjadi empat, yaitu: Naskh al- Qur’an dengan al- Qur’an, Naskh al- Qur’an dengan sunnah, Naskh sunnah dengan al- Qur’an, Naskh sunnah dengan sunnah.
Sedangkan macam- macam naskh dalam al- Qur’an adalah:
Naskh hukum dan tilawah, Naskh hukum sedang tilawahnya tetap, Naskh tilawah sedang hukumnya tetap.
4. Cara mengetahui naskh diantaranya ialah, penjelasan dari nash al- Qur’an dengan ayat yang menunjukkan dengan adanya penaskhan, penjelasan Nabi mengenai penaskhan, perbuatan Nabi, kesepakatan para sahabat bahwa ayat atau dalil ini adalah naasikh dan dalil itu mansukh, penukilan yang dilakukan seorang perowi dari sahabat bahwa salah satu dari dua hukum tentang sebuah permasalahan lebih didahulukan daripada hukum yang lain, karena tidak mempunyai peluang untuk melakukan ijtihad dalam masalah tersebut, keberadaan dari salah satu hukum dari dua hukum merupakan hukum syari’at, sedangkan hukum yang lainnya lebih mirip atau cocok dengan adat pada zaman dulu. Maka hukum syari’at menaskh adat tersebut.
5. Diantara hikmah naskh yaitu untuk memelihara kemashlahatan hamba-hamabaNya.
Penutup 
Demikian makalah ini kami susun, dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran yang konstruktif demi perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan pembahasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Manna’(1973). Mabahits fi Ulumil Qur’an. Riyadh: Manshurat al-‘Ashr al-Hadits.
Ash Shiddieqy, Teuku Muhammad Hasbi (2002). Ilmu-ilmu Al Qur’an. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Mudzakir AS, Drs. (2012). Studi Ilmu Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 
Nizan, Abu (2008). Buku Pintar Al- Qur’an. Jakarta: QultumMedia. 
Tim Forum Karya Ilmiah RADEN Lirboyo(2011). Al-Qur’an Kita. Kediri: Lirboyo Press.

Post a Comment Blogger

 
Top